Selasa, 17 Juli 2012

DISASTER RECOVERY PLANNING

Kegiatan bisnis modern seperti sekarang ini sangat diyakini bahwa sebagian besar pekerja bisnis menggunakan teknologi informasi untuk mendukung aktifitas, daya jual dan perkembangan perusahaan. Teknologi informasi mampu menyimpan seluruh proses bisnis yang terjadi pada suatu perusahaan, untuk itu sudah selayaknya bila teknologi tersebut harus diberikan tingkat keamanan data yang sangat tinggi agar mampu membentengi data dari pencurian hak akses. 


Namun tak lepas dari itu teknologi informasi juga harus mengantisipasi keamanan dari segi kehilangan data, karena sewaktu-waktu tanpa disadari terkadang suatu hal dapat terjadi begitu saja seperti adanya bencana, human error atau terkena virus. Hal tersebut bisa menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi perusahaan bila data yang dimilikinya hilang begitu saja tanpa ada data salinan.


Sebagai seorang pekerja IT, saya melihat bahwa penyusunan rencana pemulihan bencana atau Disaster Recovery Planning (DRP) sangatlah penting, melihat tingkat keberadaan data sangat dimutlakkan untuk ada dan akurat. Disaster recovery planning adalah aktivitas manajemen untuk mendefinisikan kegiatan yang perlu dilakukan untuk pemulihan bencana dan mengatur cara implementasinya. Disaster recovery planning juga berarti kemampuan untuk melanjutkan pelayanan saat terjadi bencana atau major outages dengan mereduksi kapabilitas serta kemampuan yang ada (Schmidt,2006).


Disaster atau bencana, dalam konteks disaster recovery planning, dibagi menjadi dua jenis yaitu(Schmidt,2006):

1. Minor outage

Merupakan bencana yang akibatnya tidak terlalu dirasakan oleh pengguna serta konsumen secara signifikan. Bencana dalam jenis ini umumnya tidak berakibat gagalnya sistem beroperasi secara keseluruhan.

2. Major outage

Merupakan bencana yang akibatnya fatal bagi sistem dan proses bisnis secara keseluruhan. Jika bencana jenis ini terjadi, maka disaster recovery planning yang sudah disusun harus sesegera mungkin diimplementasikan agar kegiatan bisnis tetap berjalan sesuai rencana (business continuity planning).


Dalam disaster recovery planning, saat sebuah disaster atau bencana terjadi, maka akan terjadi empat fase yang harus diperhatikan, yaitu (Maiwald,2002):

1. Respon

Merupakan reaksi seketika yang akan terjadi saat bencana berlangsung. Para karyawan yang telah ditugaskan dalam disaster recovery planning harus sesigap mungkin menjalankan segala rencana yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk mengendalikan situasi serta melakukan tindakan penyelamatan yang diperlukan.

2. Kelanjutan

Merupakan kelanjutan dari fase respon untuk mengembalikan kapabilitas sistem informasi dengan memperhatikan prioritas serta kunci utama kelangsungan organisasi agar sistem tetap dapat berjalan dengan segala kondisi yang terjadi.

3. Pemulihan

Fase pemulihan adalah masa mengembalikan keadaan dengan mengembangkan kelanjutan ke aspek yang tidak lagi menjadi prioritas, di dalamnya termasuk aktifitas relokasi, kendali aktifitas karyawan dan lain-lainnya.

4. Restorasi

Fase terakhir adalah usaha mengembalikan keadaan sebagaimana saat bencana belum terjadi. Fase restorasi dapat juga dikatakan sebagai fase untuk melakukan segala aktifitas dengan normal seakan bencana tidak pernah terjadi.



Schmidt, Klaus. 2006. High Availability and Disaster Recovery. New York: Springer

Maiwald, Eric et all. 2002. Security Planning and Disaster Recovery. California: Mc Graw Hill

Tidak ada komentar:

Posting Komentar